Yudharta Berperan Aktif dalam Halaqoh Penelitian Manuskrip Mushaf Syaikhona Kholil yang Digelar di Bangkalan Madura

Daftar Isi

Halaqoh Penelitian Naskah Mushaf Syaikhona Kholil sukses digelar sebagai langkah awal kajian mendalam terhadap warisan intelektual ulama besar Nusantara. Acara ini mengupas manuskrip Al-Quran tulisan tangan Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan (1835-1925), yang mencakup 30 juz lengkap dengan tanda tajwid, waqaf, dan kaidah penulisan khas.

Latar Belakang dan Keunikan Manuskrip

Syaikhona Kholil, ulama Madura yang mendalami qiraat sab'ah di Makkah, meninggalkan manuskrip Al-Quran sebagai bukti dedikasinya terhadap ilmu Al-Quran. Lajnah Turats Ilmi Syaikhona Kholil telah mengumpulkan 43 manuskrip beliau, termasuk tafsir, tajwid, dan ijazah qiraat Asim riwayat Hafs, dengan mushaf ini menonjol karena tulisan tangan, anotasi qiraat, serta penggunaan aksara pegon. Kajian ini penting untuk memahami metode transmisi ilmu di pesantren abad ke-19, kontribusi ulama Nusantara dalam qiraat, serta pelestarian tradisi lokal.

Tema dan Fokus Kajian

Bertema "Telaah Manuskrip Al-Quran Syaikhona Muhammad Kholil: Kontribusi Ulama Nusantara dalam Pelestarian dan Pengembangan Ilmu Al-Quran", halaqoh membahas kodikologi (analisis kertas, tinta, watermark), paleografi (gaya kaligrafi), varian qiraat, serta konteks historis-biografis. Substansi mencakup perbandingan dengan mushaf standar, sanad dengan ulama Makkah, pengaruh linguistik Jawa pegon, dan nilai kultural pesantren abad ke-19.

Peserta dan Penyelenggaraan

Diikuti 20-25 tim peneliti (pakar filologi, qiraat, tajwid, konservator) dan 8-10 narasumber (pengurus Lajnah Turats, ulama, LPMQ Kemenag, akademisi), acara berlangsung di Masjid Martajasah, area Makam Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura, pada Rabu, 1 April 2026 (12 Syawal 1447 H) pukul 08.00 WIB hingga selesai. Peran aktif dari Ketua Pusat Religius dan Pluralistik Ali Mohtarom, moderator Dr. Ahmad Karomi, serta notulen Ifdlolul Maghfur menjadi sorotan.

Sorotan Hasil dan Apresiasi

Menag Nazarudin mengapresiasi acara dan mendorong kajian mendalam, sementara Prof. Sayid Aqil Munawar menekankan Al-Quran sebagai teks suci dengan dimensi teologis, historis, filologis, dan kultural. Beliau usulkan penelusuran mushaf di pesantren serta perpustakaan dunia seperti Dubai, Birmingham, Leiden, dan Iran, meliputi karakteristik, filologi, kodikologi, qiraah, rasm, sanad, serta khat. Dr. Abdul Aziz dari LPMQ Kemenag siap dukung penelitian mushaf ulama Nusantara.


Posting Komentar